Berpikir sebelum Posting di Internet
Sekitar 2 minggu lalu saya dikejutkan dengan sms kiriman link sebuah blogspot dari seseorang. Dia bilang, “Cek deh blog ini…dia nyebut-nyebut nama kamu..”. Tanpa pikir panjang saya cek dan merasa kaget sendiri dengan apa yang saya baca disana. Untaian kalimat berujung fitnah dan terasa menyakitkan di hati.
Alih-alih marah yang tak berujung, saya kemudian berpikir dan memutuskan untuk memberi peringatan kepada si empunya blog untuk tidak lagi menulis hal-hal yang menyakitkan tentang saya. Tanpa banyak tanya, 5 menit kemudian blog itu sudah tidak lagi menampilkan tulisan aneh tentang saya.
Saya sangat yakin bahwa si pemilik blog ini adalah orang yang wajib saya beri tahu tata krama berinternet. Sebagai seorang lulusan fakultas psikologi, saya mencoba merambah ke kehidupan pribadinya dan latar belakang keluarganya. Observasi atas hal-hal itu membuat saya “hanya” menegurnya dan memberi tahu bahwa ada tata krama yang pantas dilakukan dalam ber-blogging ria. Ternyata dia hanyalah seorang pemula di dunia internet yang baru saja merasakan “euphoria” menampilkan tulisan di dunia maya. Wajar jika ia tidak tahu cara berinternet. Sekali saja merasa kecewa, internet menjadi pelarian untuk menulis ‘diary” yang pada zaman dahulu (saat saya remaja) menjadi sebuah buku rahasia yang saya simpan rapat-rapat di lemari pakaian.
OK, bukan..bukan..saya bukan mau curhat. Saya hanya ingin mengajak semua orang untuk berpikir sebelum posting apapun di internet. Kita harus sadar semua yang kita tulis di internet adalah untuk dibaca oleh semua orang (kecuali pada jalur-jalur khusus seperti email dan message). Tidaklah pada tempatnya jika kita menulis hal-hal yang dapat menyakitkan hati si pembaca.
Mau menyumpah, memaki, membuat usulan dan marah pada orang lain di internet merupakan hak setiap orang. Ini adalah bentuk ekspresi. Namun apapun yang kita ekspresikan hendaknya dapat dipertanggungjawabkan setidaknya pada target pembaca kita.
Beranilah untuk terus mengekspresikan diri dan memposting semua hal yang berguna di internet. Saya saat ini berada di lingkungan yang sangat menghargai setiap hak manusia dan saya merasa bangga untuk juga menularkan semangat ini kepada semua orang.
Sekali lagi…ekpresikanlah dirimu tapi berpikirlah sebelum posting apapun di internet.
:) Salam ekspresi :)
Lupakan saja masa lalu
Pernah dengar kalimat ini?
“Don’t be afraid to let go of things and leave the past behind so that you can start making some fresh starts.”
Harafiahnya kalimat ini berarti jangan takut membuang barang-barang dan meninggalkan masa lalu, sehingga kita bisa memulai sesuatu yang baru. Kalimat ini memotivasi saya untuk bisa melupakan masa lalu.Tidak saja dalam hal personal, tetapi dalam hal apapun.
Kalimat sakti ini dapat menyembuhkan kita yang kecewa pada apa yang terjadi di masa lalu. Sebagian besar dapat membuat sakit hati berkepanjangan. Saya yang kemudian mempraktikkan kalimat ini dalam hidup saya, menyadari kalo sampai sekarang saya tidak pernah menyesali apa yang terjadi di kehidupan masa lalu.
Bagusnya setiap kali selesai melakukan sesuatu saya sadar saya masih punya banyak waktu dan kesempatan untuk melakukan hal yang baru. Semoga banyak juga yang berpikir seperti saya. Tomorrow is just another day. Apa yang terjadi besok, terjadilah. Saya tidak pernah takut. Masa lalu cuma sekedar mengingatkan kita soal adanya masa depan.
Jangan takut melupakan masa lalu dan melangkah ke sesuatu yang baru dan menantang.
Selalu sepatu
Sudah sering saya berpindah dari tempat yang satu ke yang lain, dari mulai kabur-kaburan sampai pergi beneran. Yang jadi masalah selalu sepatu. Saya pengen banget bawa semua sepatu saya tiap kali bepergian. Tapi sepatu itu makan tempat. Ga pernah bisa rapi kalo ngga pake kardusnya.
Yang terakhir adalah saat minggu lalu saya harus kembali ke Jakarta. Beberapa pasang sepatu sudah saya siapkan lengkap dengan baju, celana dan tas yang “matching”. Setelah hari H nya tiba, tas dan koper saya sudah penuh dengan baju, celana, jilbab plus aksesoriesnya, dan segala macam yang harus dibawa sampai lupa bahwa tidak ada lagi space tersisa untuk sepatu. Dengan sangat terpaksa sepatu-sepatu itu akhirnya cuma terpojok “ngejogrok” di ujung kamar saya seperti menangis karena tidak bisa terbawa.
Semoga saya tabah berpisah dengan mereka untuk sementara waktu. Sangat jelas bahwa saat ini sepatu2 saya itu harus istirahat dulu karena cuma sepatu keds dan sneakers yang cocok disini. Dan Crocs. Dan Fitflop.
*Kangen mereka banget*
Kicau galau
Betapa ingin aku ceritakan padamu beratnya hari ini. Tapi matamu yang bulat dan bening tampak tidak ingin terbebani. Hampir tidak mungkin mengisi hatimu yang bersih dengan segala kepenatan jiwa.
Terkadang sangat ingin berbagi kelamnya perjalanan hari-hari yang dilewati. Tapi tanganmu yang tulus menggapaiku tanpa ada kata-kata lagi. Segala yang hampir terucap tidak pernah sampai dan tertohok di sela kerongkongan.
Kala awan bergulung di atas kepalaku, hanya wajahmu yang berkelebat. Seolah hanya engkau yang ada di benakku. Dan ketika kesedihan melanda, cuma kau yang terasa di relung jiwa.
Tidakkah engkau mendengar teriakanku bersahutan di udara? Karena hanya engkau yang kuharap hadir diantara gelombang riak kehidupan yang ada.
Wish you were here tonight.
Menjawab Tantangan dengan Perubahan
Sudah lihat concept timeline Facebook yang baru? Sudah lihat template perubahan page Facebook yang baru?
Zuckerberg ternyata tidak takut tantangan. Maraknya jejaring sosial baru bermunculan dengan fitur-fitur personalized membuat Facebook sedikit goyah.
Tidak, dia tidak tergoda menjual Facebook seperti apa yang dilakukan Aburizal Bakrie ketika masalah melanda Lapindo. Setelah beberapa waktu, ia menjawab tantangan yang ada dengan menyempurnakan Facebook. Hasilnya? Cekidot: http://techcrunch.com/2011/09/22/facebook-timeline-pictures/
Saya yakin, perubahan ini akan membawa Facebook ke arah tren yang lebih baik. Kecenderungan grafiknya yang menurun belakangan ini malah memacu semangat para pendiri Facebook untuk terus menyempurnakan diri.
Ini mengingatkan saya pada warung kelontong di sebelah rumah saya beberapa tahun ke belakang. Warung itu tadinya sukses merambah pelanggan di sekitar rumah saya. Perlu telur..pergi ke sana. Perlu gula..pergi kesana. Perlu pensil? Ada. Ikan asin? Sedia juga.
Sampai suatu saat, ada sebuah toko (saya ulang, TOKO) kelontong yang menjual bahan-bahan kelontong 2 x lebih lengkap dibanding warung itu. Apa yang terjadi? Orang-orang berduyun-duyun berbelanja di sana.
Selama beberapa bulan, warung itu nyaris tutup kehabisan modal. Tetapi pada suatu hari, warung itu menunjukkan gigi-nya. Pemiliknya dengan berani menjawab tantangan dan masalah yang ada dengan perubahan. Ia mengecat warungnya dengan warna cerah, meminjam tambahan modal, dan yang terakhir adalah langkah pamungkas yaitu menempelkan tulisan BISA NGUTANG di depan warungnya.
Alhasil, strategi itu lah yang membuat warungnya kembali hidup. Ada persamaan di balik 2 kisah itu, yaitu mereka sama-sama menjawab tantangan dengan perubahan yang positif. Membangkitkan kembali semangat berkarya dengan strategi yang mumpuni, sebagai tanda lahirnya diri yang baru.
Adakah kita akan berlaku sama seperti mereka ketika menghadapi tantangan? Apakah kita akan takut menghadapi ancaman yang datang padahal potensi diri cukup memadai? Akankah kita menjadi diri yang terpuruk kegagalan ketika yang lain sukses?
Semoga kita terinspirasi oleh Facebook ataupun kisah-kisah lainnya. Sehingga kita menjadi pribadi yang lebih baik.
- Posted 1 year ago
- Reblogged from moneyisnotimportant with
- 3,433 notes
- Permalink
- inspiration
- rules in life
Sekilas Leadership
Leadership merupakan racikan padu antara karakter pemimpin yang bersinergi dengan pengikutnya dalam sebuah situasi tertentu.
L = f (Person x Follower x Situation)
Karakter “Leader”; ada yang secara natural muncul pada diri seseorang, namun ada juga yang terjadi berkat asahan ilmu dan pengalaman yang diterimanya.
Pada organisasi atau perusahaan, leadership character menjadi sebuah atribut yang wajib disandang para pemimpinnya, baik dari urutan pimpinan yang paling rendah sampai yang struktural. Bahkan atribut ini setiap periodenya harus terus dikembangkan karena situasi yang terus menerus berkembang.
Dari segi organisasi dituntut secara optimis adanya Outstanding Leadership dari para pemimpin yang ada. Seiring beranekaragamnya masalah yang ada pada organisasi, Outstanding Leadership biasanya terlihat pada orang-orang yang secara alamiah dilahirkan menjadi seorang pemimpin. Hal ini menyebabkan organisasi menyiasati dengan tidak hanya mengandalkan sisi outstanding-nya, namun betul-betul mengedepankan sisi efektifitas. Effective Leadership, menjadi sebuah tuntutan yang wajar dan tidak berlebihan, siapa saja dapat diarahkan menjadi seorang yang efektif dalam menangani berbagai situasi di wilayah organisasinya.
Keberhasilan seseorang dalam mencapai effective leadership tidak dapat dipisahkan dari 3 bidang berikut:
* Atribut fisik : Kemampuan diri (kemampuan interpersonal, daya kognisi, keterampilan diri, kemampuan supervisi)
* Atribut mental : Motivasi diri (need of achievement yang tinggi, daya persuasif yang tinggi, orientasi daya diri, tidak terlalu harus “bergaul”)
* Atribut personality : Kepribadian dalam diri (toleransi stres, kepercayaan diri, kewaspadaan diri, kematangan pribadi, integritas)
Hersey dan Blanchard mengembangkan 4 gaya leadership:
a. Telling : Instructing & Supervising
b. Selling : Explaining & Clarifying
c. Participating : Sharing & Facilitating
d. Delegating : Coaching & Assisting
Jadi Atasan atau Bawahan?
Pengakuan dari salah seorang staf:
…..biar dikacungin berkali2
…..biar kadang2 dizalimin
…..tapi ga disuruh ambil keputusan untuk orang banyak :)
…..mending jadi bawahan, gaji buat beli susu ama pampers mah cukup lah…:)
Itu yang dia bilang ketika kami sedang membicarakan sang atasan yang begitu sulit memutuskan sesuatu di kantor.
Memang, salah satu tugas seorang atasan adalah bertanggung jawab bagi orang banyak dan memutuskan apa yang terbaik bagi mereka. Terdengar tidak sulit dalam kata-kata, namun sangat sulit untuk diwujudkan dalam tindakan.
Saya tidak menyalahkan mental staf itu, yang berbicara demikian diatas, karena baginya mungkin sekedar hidup dari gaji saja sudah cukup. Tidak perlu bersusah payah menanggung beban tanggung jawab sebagai atasan untuk bisa hidup, membeli susu anak dan pampers. Masalahnya adalah motif orang dalam bekerja acapkali berbeda satu dan lainnya. Kalau hanya untuk beli susu sih saya yakin tidak ada motif mencari self-esteem atau self-actualization di dalamnya.
Banyak orang yang tidak mau jadi atasan hanya karena alasan ini. Tidak mau memutuskan atau bertanggung jawab atas orang lain. Jadi mau tidak mau pilihan akhir ya jadi staf saja, bebas dari resiko.
Memutuskan sesuatu memang terkadang sangat sulit. Apalagi yang melibatkan banyak pihak. Sekedar “joke”; istilahnya berani mutusin ya mesti berani benjol. Atasan yang sudah memutuskan sesuatu mesti juga tanggung resiko paling pahit sekalipun.
Kalau dirunut-runut dari teori, ada yang namanya incremental decision process. Ada banyak model untuk decision making. Tapi marilah kita bedah yang ini. Sebelum memutuskan sesuatu, seseorang mesti mengidentifikasi apa yang akan diputuskan. Perkenalan secara lebih dalam dapat mengarahkan kita untuk melakukan diagnosa. Tentu saja tahap ini dapat lebih kompleks dengan cara mengenali ciri dan tanda atas permasalahan yang ada sehingga dapat mudah mengenali dan mengidentifikasi masalah. Setelah itu, tahap selanjutnya yaitu tahap perkembangan masalah. Pengetahuan kita diarahkan untuk mencari pilihan yang terbaik dengan cara menyaring segala informasi terkait masalah tsb. Jika sudah, tahap ini ditutup dengan gambaran informatif solusi atau pilihan yang akan diputuskan. Tahap terakhir adalah tahap pemilihan. Pemilihan untuk memutuskan sesuatu ini melibatkan juga proses evaluasi, uji coba keputusan, dan analisa awal. Selanjutnya, jika semua proses ini telah dijalankan, maka dapat terlahir sebuah keputusan yang bertanggung jawab dan merupakan hasil dinamika dari tahap-tahap yang ada.
Setelah bedah teori ini saya tidak akan serta merta bilang bahwa, “Tuh kan, gampang kok memutuskan sesuatu itu”. Model diatas mencerminkan bahwa mengambil keputusan adalah proses panjang dan melelahkan yang pada akhirnya ditujukan untuk kebaikan atau look for the best, decide the best, and take the best option.Ternyata memang sulit untuk menjadi atasan, apalagi jika harus mengambil keputusan bagi orang banyak.
Poster Remake | [Inglourious Basterds] - asked by fiercemichi
- Posted 1 year ago
- Reblogged from philphys-deactivated20120616 with
- 5,905 notes
- Permalink
- Diane Kruger
- Inglourious Basterds
- meme
- poster remake
- film
Sapiosexual (n): a person who is sexually attracted to intelligence in others.
(via takernot-agiver, ellib)
- Posted 1 year ago
- Reblogged from philphys-deactivated20120616 with
- 7,685 notes
- Permalink
Say YES! to new things and people.
The more you open your eyes, heart and mind and the more you share your work and step outside to explore the more opportunities will come your way.
This just might be my favorite piece by workisnotajob!
- Posted 1 year ago
- Reblogged from moneyisnotimportant with
- 2,746 notes
- Permalink
Rapat Tidak Efektif : Menyesakkan Dada
Hari sebelumnya, sejumlah rekan dan kolega berjanji akan saling bertemu hari ini untuk membicarakan tentang suatu topik yang harus diselesaikan dalam waktu dekat.
Jam sudah menunjukkan waktu untuk pertemuan atau rapat, namun hanya beberapa orang yang sudah datang. Walaupun rapat ini terbilang bukan rapat biasa, namun hanya sedikit orang yang bersemangat. Poin penting dalam rapat ini adalah kolaborasi antara orang Indonesia dan orang Eropa (Belanda); menarik menurut pandangan saya. Tapi tidak bagi beberapa orang lainnya.
Hambatan yang utama dalam rapat ini yang pertama adalah hambatan bahasa. Bukan cuma secara harafiah, namun juga secara non harafiah. Bahkan, beberapa gestur dan mimik muka tidak membantu dalam rapat ini, semakin membuat beberapa orang bertanya-tanya apa maksud pembicaraan dalam rapat. Tidak efektif jadinya.
Hambatan yang kedua adalah hambatan knowledge. Bukan seberapa pintar orang Eropa dan seberapa bodoh orang Indonesia, melainkan seberapa jauh knowledge yang bisa ditransfer oleh masing-masing orang. Dan hambatan kali ini sangat; sangat membuat sesak di dada sehingga rapat menjadi sangat tidak efektif. Bayangkan, bahasa saja membuat orang saling bertukar tanda tanya, apalagi knowledge. Tidak mungkin dalam rapat saya bertanya, “Hai, kamu tahunya apa sih?”.
Hambatan yang ketiga yang juga membuat rapat menjadi sangat tidak efektif adalah kultur atau budaya. Budaya orang Indonesia yang saling menahan diri untuk tidak mengkritisi orang di depan umum, menjadi hambatan yang paling membuat kepala bergeleng-geleng sendiri. Saya sendiri menjadi “korban” hambatan ini. Beberapa kali saya harus menahan diri untuk tidak protes karena tidak setuju, untuk kemudian membuat saya dengan sangat terpaksa mengikuti kemauan forum. Bisa ditebak akhirnya, orang Eropa tetap bisa dengan gemilang mengeluarkan ide-idenya tanpa ada hambatan berarti.
Pelajaran buat saya hari ini. Betapa tidak menyenangkan berada dalam perspektif yang berbeda dengan orang-orang dalam sebuah kelompok. Betapa menjadikan sebuah pertemuan tidak menghasilkan sesuatu yang baik dan melegakan semua anggota kelompok. Pada akhirnya saya cuma harus memilih apakah saya akan diam selamanya dan menerima keputusan rapat dengan sesak dada, atau protes dan dimusuhi beberapa anggota kelompok yang lain namun puas dengan hasil rapat yang sudah didiskusikan.
Saya berjanji dalam diri saya. Besok lusa, saya tidak mau lagi terjebak dalam hambatan-hambatan ini. Jika memang saya mesti protes, maka saya akan lakukan hal itu. Jika saya harus dipandang aneh, tidak apa-apa. Yang penting ide saya keluar dan dapat berkontribusi pada lingkungan saya, sehingga saya menjadi pribadi yang berarti.
*proud of yourself*
Rainbow Eucalyptus, is the only species of eucalyptus that grows in the northern hemisphere and is normally grown for its pulpwood, used to create white paper. But why does it look like it’s been painted? The secret behind the Rainbow Eucalyptus is that the trees shed multiple patches of bark every year, but not at the same time. As the patches are gone, the green inner bark is exposed, and as it matures it turns bluish, then orange, purple and maroon. This creates the rainbow effect.
how is something like this real.

![Poster Remake | [Inglourious Basterds] - asked by fiercemichi](http://24.media.tumblr.com/tumblr_lprpejUTqD1qcse73o1_500.jpg)






